Undhak-undhuk Basa Jawa

10 Mar

Merupakan etika berbahasa Jawa. Bahasa Jawa dibagi menjadi tiga variasi Bahasa: ngoko (“kasar”), madya (“biasa”), dan krama (“halus”).

Sehari-hari, ngoko digunakan untuk berbicara kepada teman yang seumur atau kepada yang lebih muda. Untuk madya, madya digunakan untuk orang yang cukup resmi. Terahkir, kita menggunakan krama kepada orang yang lebih tua dan dihormati.

Dibawah ini merupakan contoh penggunaan Dialek diatas:

Bahasa Indonesia: “Maaf, saya mau tanya rumah Kak Budi itu, di mana?”

  1. Ngoko kasar: “Eh, aku arep takon, omahé Budi kuwi, nèng*ndi?’
  2. Ngoko alus: “Aku nyuwun pirsa, dalemé mas Budi kuwi, nèng endi?”
  3. Ngoko meninggikan diri sendiri: “Aku kersa ndangu, omahé mas Budi kuwi, nèng ndi?” (ini dianggap salah oleh sebagian besar penutur bahasa Jawa karena menggunakan leksikon krama inggil untuk diri sendiri)
  4. Madya: “Nuwun sèwu, kula ajeng tanglet, griyané mas Budi niku, teng pundi?” (ini krama desa (substandar))
  5. Madya alus: “Nuwun sèwu, kula ajeng tanglet, dalemé mas Budi niku, teng pundi?” (ini juga termasuk krama desa (krama substandar))
  6. Krama andhap: “Nuwun sèwu, dalem badhé nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika, wonten pundi?” (dalem itu sebenarnya pronomina persona kedua, kagungan dalem ‘kepunyaanmu’. Jadi ini termasuk tuturan krama yang salah alias krama desa)
  7. Krama lugu: “Nuwun sewu, kula badhé takèn, griyanipun mas Budi punika, wonten pundi?”
  8. Krama alus “Nuwun sewu, kula badhe nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika, wonten pundi?”

*nèng adalah bentuk percakapan sehari-hari dan merupakan kependekan dari bentuk baku ana ing yang disingkat menjadi (a)nêng. Kata ini bisa berarti di.

Dengan memakai kata-kata yang berbeda dalam sebuah kalimat yang secara tatabahasa berarti sama, seseorang bisa mengungkapkan status sosialnya terhadap lawan bicaranya dan juga terhadap yang dibicarakan. Walaupun demikian, tidak semua penutur bahasa Jawa mengenal semua undhak-undhuk itu. Biasanya mereka hanya mengenal ngoko dan sejenis madya.

 

Dialek Bahasa Jawa

10 Mar

Dialek adalah cara pengucapan bahasa yang berbeda di tiap daerah. Untuk Bahasa Jawa, di pulau jawa dibagi 3 bagian:

Jawa bagian Barat
  1. dialek Banten
  2. dialek Cirebon
  3. dialek Tegal
  4. dialek Banyumasan
  5. dialek Bumiayu (peralihan Tegal dan Banyumas)

Tiga dialek terakhir biasa disebut Dialek Banyumasan.

Jawa bagian Tengah
  1. dialek Pekalongan
  2. dialek Kedu
  3. dialek Bagelen
  4. dialek Semarang
  5. dialek Pantai Utara Timur (Jepara, Rembang, Demak, Kudus, Pati)
  6. dialek Blora
  7. dialek Surakarta
  8. dialek Yogyakarta
  9. dialek Madiun

Kelompok kedua ini dikenal sebagai bahasa Jawa Tengahan atau Mataraman. Dialek Surakarta dan Yogyakarta menjadi acuan baku bagi pemakaian resmi bahasa Jawa (bahasa Jawa Baku).

Jawa bagian Timur
  1. dialek Pantura Jawa Timur (Tuban, Bojonegoro)
  2. dialek Surabaya
  3. dialek Malang
  4. dialek Jombang
  5. dialek Tengger
  6. dialek Banyuwangi (atau disebut Bahasa Osing)

Kelompok ketiga ini dikenal sebagai bahasa Jawa Wetanan (Timur)

Bahasa Jawa

10 Mar

Bahasa Jawa adalah bahasa daerah yang digunakan penduduk Jawa di Jawa Tengah,Yogyakarta & Jawa Timur. Selain itu, Bahasa Jawa juga digunakan oleh penduduk yang tinggal beberapa daerah lain seperti di Banten terutama kota Serang, kabupaten Serang, kota Cilegon dan kabupaten Tangerang, Jawa Barat khususnya kawasan Pantai utara terbentang dari pesisir utara Karawang, Subang, Indramayu, kota Cirebon dan kabupaten Cirebon.

Di Jawa Barat, orang-orang menggunakan bahasa sunda yang juga mirip dengan Bahasa Jawa.

Dalam penggunaanya. Bahasa Jawa memiliki aksara sendiri yaitu aksara jawa, dialek yang berbeda dari tiap daerah, Serta Undhak-undhuk basa yang berbeda.

Javanese Alphabeth

24 Jan

Berikut adalah macam-macam aksara jawa, selamat belajar aksara jawa!

huruf jawa

huruf jawa

angka jawa

angka jawa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

pasangan aksara jawa

pasangan huruf jawa

 

 

 

 

Sandangan

sandangan

 

Legenda Aksara Jawa

24 Jan

Legenda atau cerita rakyat yang ada dalam setiap suku, yang menceritakan asal usul terjadinya suatu peristiwa memang menarik untuk di ceritakan kembali kepada anak-anak kita. Begitu juga dengan legenda Aji Saka yang konon dialah yang menciptakan tulisan/huruf Jawa, Ha Na Ca Ra Ka.
Legenda ini berawal dari kedatangan Aji Saka bersama dua orang pengawalnya yang setia, Durga dan Sembada dari India ke tanah Jawa yang terkenal keindahannya bagai Swargaloka. Mereka singgah di salah satu kerajaan bernama Medang Kamulan.

Sebelum meneruskan pengembaraannya, Aji Saka memerintahkan Durga untuk tinggal dan menjaga kapal mereka serta menitipkan sebuah keris pusaka yang harus ia jaga dengan sepenuh hati seperti ia menjaga nyawanya sendiri, dan tidak boleh di serahkan kepada siapapun juga selain Aji Saka sendiri yang memintanya.
Aji Saka melanjutkan perjalanannya bersama Sambada menuju ke Medang Kamulan. Sesampai mereka di desa, Aji Saka dan Sambada heran melihat desa yang mereka singgahi begitu sepi. Penduduk bersembunyi dan menutup rapat pintu dan jendela rumah mereka seolah takut keberadaan mereka di ketahui.
Tak lama, Aji Saka berpapasan dengan seorang tua yang berjalan bersama seorang anak gadis dengan wajah muram dan sedih. Bertanyalah Aji Saka kenapa mereka bersedih. Bapak tua itu bercerita bahwa hari ini tibalah ia memberikan persembahan untuk sang prabu sebagai santapan. Medang Kamulan di perintah oleh seorang raja berujud setengah manusia dan setengah raksasa, dan dalam beberapa hari sekali, sang raja meminta daging manusia untuk santapannya.
Mendengar cerita ini, Aji Saka merasa iba dan bertekad menolong penduduk desa. Maka, berkatalah ia pada si Bapak tua, bahwa dia yang akan menggantikan anak gadisnya sebagai santapan sang Prabu Dewatacengkar.
Maka, berangkatlah Aji Saka dan Sembada menemui sang Prabu. Prabu Dewatacengkar begitu gembira menyambut kedatangan Aji Saka, apalagi setelah melihat bahwa santapannya kali ini masih muda. Prabu dewatacengkar telah membayangkan menyantap daging muda yang masih segar.
Namun, sebelum sang Prabu menyantapnya, Aji Saka mengajukan syarat. Apabila sang Prabu mampu menarik habis kain sorbannya (ikat kepala) maka, Aji Saka akan dengan rela menyerahkan nyawanya untuk di santap. Syarat ini di sanggupi sang Prabu. Rakyat berduyun-duyun datang ke kota raja untuk melihat hal ini. Ajaib sekali dengan kesaktiannya, kain ikat kepala Aji Saka tak habis meski Prabu Dewatacengkar telah menariknya sampai keluar dari daerah kekuasaanya.
Akhirnya, sampailah Prabu Dewatacengkar di pesisir pantai Selatan. Anehnya, sesampainya sang prabu di pesisir pantai, habis pulalah kain ikat kepala Aji Saka. Maka, dengan kesaktiannya di kibaskanlah kain ikat kepala itu yang membuat Prabu Dewatacengkar terpelanting dan jatuh ke dalam pantai Selatan. Sesaat setelah tubuh sang Prabu di telan ombak, muncullah seekor buaya putih raksasa. Ternyata, ujud sang Prabu telah berubah menjadi buaya putih raksasa.
Setelah itu, Aji Saka di angkat menjadi raja Medang Kamulan. Setelah beberapa waktu memerintah, teringatlah Aji Saka akan Durga pengawalnya yang lain. Maka di utuslah Sambada untuk menjemput Durga untuk tinggal bersama mereka di Medang Kamulan. Berangkatlah Sembada menjemput Durga.
Sesampainya di tempat terakhir mereka berpisah, Sembada meminta kembali keris pusaka Aji Saka dan mengabarkan bahwa Aji Saka kini telah menjadi raja Medang Kamulan dan mengajak serta dirinya untuk tinggal di sana. Namun, karena Durga teringat pesan Aji Saka untuk tidak menyerahkan keris pusaka kepada siapapun kecuali dirinya, Durga tidak menyerahkannya. Terjadilah salah paham di antara keduanya, dan pertarunganpun tak dapat di elakkan. Karena mereka sama-sama sakti, akhirnya merekapun gugur bersama.
Lama berselang tak lagi terdengar kabar baik dari Sembada maupun Durga, akhirnya Aji Saka memutuskan untuk menjemput mereka sendiri. Namun terkejutlah dia saat tiba di tempat pertama ia meninggalkan Durga, Aji Saka melihat ke dua abdi setianya telah tewas dan menjadi bangkai. Sedih dan menyesal akan kecerobohannya maka, Aji Saka menulis ha na ca ra ka pada sebuah daun lontar.
Inilah aksara Jawa yang terkenal itu:
ha na ca ra ka artinya : Ada utusan
da ta sa wa la artinta : Saling bertengkar
pa dha ja ya nya artinya : Sama saktinya
ma ga ba tha nga artinya : Gugur bersama

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.